JAKARTA – Perekonomian Indonesia pada pertengahan 2026 menunjukkan kondisi yang campuran antara pertumbuhan yang masih solid dan tekanan kuat dari kebijakan ekonomi terbaru pemerintah serta ketidakpastian global.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat ekonomi Indonesia masih tumbuh di kisaran 5,61 persen (yoy) pada kuartal I 2026, menjadikannya salah satu pertumbuhan tertinggi di antara negara berkembang di kawasan Asia. Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan aktivitas ekspor yang tetap berjalan stabil di awal tahun.
Namun, di sisi lain, pasar keuangan mulai menunjukkan tekanan akibat perubahan kebijakan ekonomi yang dinilai cukup agresif oleh pemerintah baru.
Kebijakan negara atas komoditas jadi sorotan
Salah satu isu utama yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah kebijakan pemerintah yang memperkuat kontrol negara terhadap ekspor komoditas strategis seperti batu bara, kelapa sawit, dan ferroalloy.
Mulai pertengahan 2026, seluruh ekspor komoditas tersebut diwajibkan melalui perusahaan negara yang ditunjuk, sebagai bagian dari upaya meningkatkan penerimaan negara dan mengurangi praktik under-invoicing.
Meski pemerintah menilai kebijakan ini akan memperkuat pendapatan nasional, sejumlah pelaku usaha meminta kejelasan aturan teknis, terutama terkait kontrak jangka panjang dan mekanisme harga.
Pasar keuangan tertekan, investor asing keluar
Di sisi lain, pasar modal Indonesia mengalami tekanan yang cukup signifikan. Investor asing tercatat melakukan aksi jual besar-besaran di pasar saham dan obligasi, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas kebijakan ekonomi.
Rupiah juga melemah ke level terendah dalam beberapa periode terakhir, sementara indeks saham domestik ikut terkoreksi tajam.
Sejumlah analis menilai kombinasi antara kebijakan ekspansif pemerintah dan perubahan struktur ekonomi menciptakan ketidakpastian baru bagi investor global.
Pemerintah tetap optimistis
Meski tekanan meningkat, pemerintah tetap mempertahankan proyeksi optimistis terhadap ekonomi nasional.
Kementerian terkait menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 tetap berada di kisaran 5,4 persen, didukung oleh konsumsi domestik yang kuat, inflasi yang terkendali, serta program hilirisasi industri yang terus diperluas.
Pemerintah juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih solid, dengan basis konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan jangka menengah.
Kesimpulan
Ekonomi Indonesia saat ini berada dalam fase transisi: di satu sisi masih tumbuh stabil, namun di sisi lain menghadapi tekanan dari perubahan kebijakan struktural dan gejolak pasar global.
Arah ekonomi ke depan akan sangat ditentukan oleh bagaimana pemerintah menyeimbangkan antara kontrol negara, iklim investasi, dan kepercayaan pasar internasional.
